Merokok dan Mencintai Kejujuran

7:04:00 PM

Jika kubilang rokok adalah barang dagangan yang paling jujur, apa kau akan protes? Jika kau adalah kaum anti rokok yang tidak mau berpikir mungkin iya, kau bakal protes. Begini, aku adalah orang yang mencintai kejujuran. Karena itulah aku mencintai rokok --yang ini agak kulebih-lebihkan- .

Begini, sekarang sebut produk selain rokok yang bisa sejujur rokok. Sebut produk yang merinci dampak terburuknya bahkan memberinya gambar. Apa ada? Nggak ada. Produk konsumsi itu berlomba-lomba menampilkan citra baiknya. Menampilkan nilai positif poduknya saja.

Sekarang kita lihat bungkus rokok. Di situ diterangkan bahwa rokok bisa menyebabkan kanker mulut. Nauzubillah sekali itu gambarnya. Atau yang kanker tenggorokan juga mengerikan sekali. Pokoknya mengerikan. Dan mereka jujur sekali.

Lalu sekarang aku malah bertanya-tanya kenapa Cuma rokok yang mau jujur? Andai indomie, coca-cola, mcd, permen, minuman kemasan, kopi saset, micin, atau juga gula mau jujur dengan resiko terburuknya, kupikir itu malah lebih buruk dari rokok. Percayalah gula itu membuat diabetes. Atau indomie juga bisa bikin usus buntu. Apalagi kopi saset wah banyak sekali itu dampak kesehatannya. Mcd juga apalagi, obesitas bung. Padahal, jika memang kita menempatkan rokok sebagai produk konsumsi kan sebetulnya ya sama saja to kayak indomie, atau permen, minuman berenergi misal.

O ya tentang minuman berenenergi, apa kau tau kalau badan pom ini mengeluarkan ijin buanyak sekali. Walaupun produk-produk ini bisa membikin gagal ginjal. Kau pasti pernah dengar kan seorang pekerja keras gagal ginjal gara-gara kebanyakan ekstra joss ataupun kratingdaeng. Tapi toh mereka tak mau jujur. Para pembuatnya ini tak jujur dengan resiko yang mesti ditanggung konsumen. Beda dengan rokok.


Pada akhirnya rokok adalah produk yang paling jujur. Dia menampilkan kadar tar dan nikotin. Menampilkan resiko terburuknya. Bahkan dengan memberinya gambar. Kurang jujur apalagi? Lalu kalau sesuatu sudah menampakkan kejujurannya tapi kau masih suka, apalagi kalau bukan cinta? 

You Might Also Like

0 comments

Powered by Blogger.